Kabikaj, rajah kitab kuning kaum santri

Kabikaj, rajah kitab kuning kaum santri




Minggu kemarin saya singgah di sebuah pesantren di dekat tempat kerja saya. Ketika masuk ke masjid, saya melihat sebuah kitab yang sepertinya cukup tua dan usang. Saat saya buka halaman pertama kitab tersebut sebuah rajah yang tak asing lagi bagi anak - anak pondok pesantren tertulis di atasnya, " Yâ Kabikaj, Ya Rabb Kabikaj ". Konon, rajah ini dapat melindungi kitab dari rayap, geget, kecoa, atau serangga perusak lainnya.

Sebuah artikel yang di muat di jurnal Turatsiyyat yang diterbitkan oleh Dar al-Kutub wa al-Watsaiq al-Qumiyyah (The National Library and Archives), Kairo, edisi bulan Juli 2007. Artikel tersebut ditulis oleh Adam Garec, seorang Orientalis kelahiran Chekoslovakia, dengan judul The use of “Kabikaj” in Arabic Manuscripts (diterjemahkan dengan tajuk Kabikaj fi al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah).
Dalam tulisannya, Garec mengkaji lafadz Kabikaj dengan penghampiran filologis dan historis. Garec juga melampirkan beberapa contoh manuskrip yang memuat lafaz Kabikaj, salah satunya adalah manuskrip yang berasal dari Aceh, yang ditulis pada abad ke-19 M (tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dengan nomer seri 14.316)



Dalam kamus bahasa arab kontemporer karya H.Wehr, Kabikaj merupakan kombinasi dari bahasa Persia-Indo yang di arabkan (musta’rob). Dalam kamus bahasa Persia, Kabikaj artinya raja serangga ada juga yang mengartikan dengan malaikat atau mungkin Jin yang ditugaskan untuk menjaga serangga, utamanya rayap. Kabikaj memiliki makna yang sama dengan Dayekhda (دايخدا) dalam bahasa Suryani ( Syiriac Aramaic)  yakni malaikat yang ditugaskan menjaga serangga. Seperti yang kita ketahui, penyerapan kosa kata bahasa Syiriac maupun Persia ke dalam bahasa Arab sangat banyak dijumpai dalam sastra Arab abad pertengahan mengingat bahasa ini merupakan bahasa asli daerah di mana Islam berkembang.


Kosa kata serapan dari bahasa Syiriac Aramaic juga banyak ditemukan dalam kosa kata bahasa Arab yang sudah lama dipakai di daerah Arabia, utamanya kata - kata yang berhubungan dengan perdagangan atau dalam doa - doa, seperti dalam bait Hizib Jaljalut. Dalam Hadits, bahasa ini merupakan bahasa yang dituturkan oleh Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan Nabi 'Isa Alaihimus salam.



Sumber lain menyebutkan bahwa, Kabikaj merupakan nama dari salah satu jenis tumbuhan yang mengeluarkan bau yang tidak sedap hingga tak ada satupun serangga yang mendekat. Konon, proses percetakan pada umumnya menggunakan bahan semisal minyak ikan, kanji, madu dan putih telur untuk merekatkan perhalaman dan jilid sebuah manuskrip. Bahan-bahan diatas tentu sangat mengundang serangga seperti rayap untuk menggerogotinya, dalam rangka mencegah hal tersebut maka dicampurkanlah tumbuhan Kabikaj yang sudah di tumbuk dalam bahan utama perekat agar serangga seperti rayap enggan mendekat.


Cerita yang berasal dari masyarakat Persia dan India menyatakan bahwa kitab yang halaman awal dan akhirnya ditulisi Kabikaj sebanyak-banyaknya maka kitab tersebut pasti aman dari rayap, karena Kabikaj adalah nama malaikat penjaga rayap sehingga rayap tidak berani mendekat, dari cerita inilah kemudian muncul mitos Kabikaj mantra pengusir rayap di kalangan pondok pesantren.

Seiring waktu berlalu, Kabikaj mengalami perubahan bentuk kata (derivasi) sehingga menjadi Akikanj (أكيكنج), Kanikaj (كنيكج), Kih (كيح), Kikah (كيكح), Bikikaj (بكيكج) dan lain-lain.

Comments

Popular posts from this blog

Shalat dalam Kristen dan Yahudi

Hadits Qudsi tentang diharamkannya kezaliman

Syair Manshur Al Hallaj : Walláhu má thala'at Syamsy