Shalat dalam Kristen dan Yahudi
Shalat dalam agama Kristen dan Yahudi
Umat islam sedang melaksanakan Shalat
Shalat merupakan ibadah harian yang rutin dilakukan oleh kaum muslimin setiap harinya. Sebanyak lima kali dalam sehari umat Islam wajib menghadapkan wajahnya ke arah Ka'bah, kiblat shalat yang ada di Makkah Al Mukarramah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dengan gerakan - gerakan penghormatan tertentu sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW serta pembacaan ayat suci Al Qur'an, doa -doa, dan pujian kepada Allah Ta'ala. Selain shalat fardhu lima waktu, dianjurkan pula melakukan shalat - shalat sunnah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Awalnya, shalat yang diwajibkan oleh Allah SWT pada masa pertama penyebaran Islam hanyalah Shalat malam saja yaitu sejak diturunkannya Qs Al Muzzammil: 1 - 19, dengan rakaat tak terbatas hingga muncul fajar, sehingga banyak para sahabat yang merasa berat untuk melaksanakannya. Maka turunlah ayat ke dua puluh surat itu yang menjadi ketetapan bahwa shalat malam itu menjadi sunnah dan dikerjakan semampunya saja. Perintah shalat lima waktu ditetapkan setelah peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW satu setengah tahun sebelum hijrah, menurut Ibnu Katsir. Praktik Ibadah semacam shalat ini juga ada dalam ajaran agama lain seperti Kristen dan Yahudi.
Seorang penganut Kristen Orthodox
Bagi umat Kristen yang dilahirkan dari tradisi gereja - gereja reformasi Barat, mungkin terasa asing jika mendengar istilah shalat dalam kekristenan. Namun bagi pemeluk Kristen Orthodox Syiria, Orthodox Koptik, Orthodox Konstantinopel, dan Katholik ibadah ini telah menjadi kewajiban harian bahkan jauh sebelum Islam. Jawad Ali, sejarawan Irak mengatakan bahwa kata shalat sendiri berasal dari bahasa Aram, Tselota yang merupakan nomen actionis yang artinya membungkukkan badan. Karena pengaruh bahasa Arab yang kuat di Timur Tengah, kata shalat lebih dominan dipakai oleh umat Kristen Arab untuk menyebut Tselota.
Dalam Kristen Orthodox, Ibadat shalat ini dibagi menjadi dua pola waktu yaitu tiga kali sehari seperti yang dilakukan Nabi Daniel ( Daniel 6: 11 - 12) dan Nabi Daud ( Mazmur 55: 18) . Waktu pelaksanaannya adalah pagi, siang, dan Sore. Lalu ada pola tujuh waktu ( As - Sab'u As shalawât) atau Liturgia Horarium dalam Katholik yang mengikuti pola Nabi Daud dalam Mazmur 119: 164. Waktu - waktu shalat yang disebut 'Iddana Tselota dalam bahasa Aram ini antara lain :
1. Shalat Saatul Awwal atau shalat Bâqir dalam Orthodox Koptik dan Laudes Matutinae dalam Katholik, dilaksanakan sekitar pukul 06:00.
2. Shalat Saatuts Tsalitsah atau Hora Tertia dalam Katholik, dilaksanakan sekitar pukul 09:00, setara dengan Shalat Sunnah Dhuha bagi kita Umat Islam.
3. Shalat Saat As Sadisah atau Hora Sixta yang dilaksanakan pada pukul 12 :00 bersamaan dengan shalat Dzuhur bagi Umat Islam.
4. Shalat Saatut Tasi'a atau Hora Nona, pelaksanaannya sekitar pukul 15 :00, dimana waktu itu umat Islam akan melaksanakan Shalat Asar.
5. Shalat Saatul Ghurûb atau Verpes, pelaksanaannya sekitar pukul 18:00 bersamaan dengan shalat Maghrib bagi Umat Islam, pada waktu ini pula umat Yahudi melakukan Tefilah Ma'ariv.
6. Shalat Saatun Naum atau Vigil dilaksanakan pada pukul 19 :00, setara dengan Shalat Isya.
7. Shalat Saatus Sattar disebut juga Shalat Hâjib Adz Dzulmat yang dalam bahasa Aram disebut Tselota Sahra atau Nocturna mungkin berpadanan dengan Shalat Tahajjud bagi kita Umat Islam karena pelaksanaannya tengah malam.
Pada Konsili Vatikan II, Ibadat Prime dihapuskan dan meringkas ibadah Terce, Sixta , dan None menjadi satu ibadah saja yang pelaksanaannya bisa dilakukan kapan saja di siang hari, lalu ibadah malam disebut ibadah bacaan yang waktu pelaksanaannya dapat dilakukan kapan pun sepanjang hari.
Keseluruhan waktu shalat ini memiliki makna penting dalam Kekristenan karena melambangkan kehidupan Yesus Kristus dari mulai kelahiran, penderitaan di kayu salib, kematian, dan kebangkitannya dari kematian. Pada awalnya, praktik Ibadah harian ini mengikuti tradisi ibadah harian Yahudi di awal abad pertama, mereka beribadah bersama - sama dengan umat Yahudi sampai kehancuran bait Allah tahun 70 M oleh tentara Romawi dibawah pimpinan Jenderal Titus dan benar - benar berpisah dari Yudaisme semenjak Muktamar Yahudi di Yavne tahun 80 M sebagai reaksi terhadap kekristenan dengan disisipkannya sebuah hujatan terhadap Kristen dalam Shemoneh Esrei ( Delapan belas Berkat) atas anjuran Rabi Gamaliel II.
Sebelum kehancuran bait Allah di Yerusalem, umat Kristen mula - mula melakukan sembahyang dengan berkiblat ke arah Baitul Maqdis sama seperti umat Yahudi. Namun setelah kehancurannya, umat Kristen berpindah kiblat menjadi ke arah timur berdasarkan Yohanes 4: 21 ; Kejadian 2 :8; Yehezkiel 43 :2; Yehezkiel 44 :1 hingga terlestari sampai saat ini oleh umat Orthodox.
Dalam agama Yahudi ibadah semacam shalat ini disebut Tefilah ( jamak: Tefillot) atau dalam bahasa Yiddish disebut Daven yang dikerjakan tiga kali dalam sehari yaitu Sacharit ( pagi), Minkha ( siang), dan Ma'ariv Aravim ( Maghrib atau sore). ibadah ini juga dilakukan dengan gerakan - gerakan khusus disertai pembacaan berkat - berkat yang berbeda di setiap waktunya sebagaimana yang tercantum dalam Sidur, buku Doa umat Yahudi. Di dalam Talmud, Rabi Joshua ben Levi mengatakan bahwa Penerapan pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadatan berupa persembahan kurban di Bait suci, sebagaimana perintah Allah dalam kitab Keluaran 29: 38 - 42; dan Bilangan 28: 1 - 8.
Saat Bani Israel dibuang ke Babilonia dan Bait suci dihancurkan oleh Nebukadnezar, Bani Israel tidak dapat lagi melakukan pengorbanan, maka digantilah praktik Ibadah tersebut dengan Tefilah di rumah masing - masing hingga terlaksana sampai hari ini dengan waktu yang sama seperti yang diilakukan Nabi Daniel ( Daniel 6: 11). Menurut Rabi Yose bar Rabi Hanina, ibadah harian ini juga mengikuti kebiasaan ibadah leluhur Bani Israel, Sacharit oleh Abraham, Minkha oleh Ishak, serta Ma'ariv oleh Yakub. Perbedaan pendapat para Rabi dalam masalah penerapan pertama pola waktu ibadah ini bisa kita lihat dalam Talmud Bavli traktat Berakhot 26b. Berikut ini adalah urutan pemberkatan di setiap waktu - waktu ( Z'mamim) Tefilah :
A. Sacharit:
1.Birkat hasachar
2.Pezukei D'Zimra
3.Keriat shema
4.Shemonei esrei
5.Tachanun
6.Halel
7.Keriat Hatorah
8.Ashrei
9.Musaf(saat hari raya atau bulan baru)
10.Shir shel Yom
11.Aleinu
B. Minkha :
1.Aleinu
2.Uva L'tzion
3.Keriat Torah
4.Shemonei esrei
5.Tachanun
6.Aleinu
C. Maariv:
1.Keriat Hashem
2.Shemonei esrei
3.Aleinu
Tefilah Ma'ariv Aravim dilaksanakan ketika matahari hampir terbenam
Umat Yahudi di masa sekarang melakukan Tefilah di Sinagoga - sinagoga, bagi sinagoga yang berada di luar Kota Yerusalem diharuskan menghadap kiblat yang disebut Mizrach ke arah Yerusalem. Dulu Rasulullah SAW bersama para sahabatnya ketika di Madinah juga Shalat menghadap ke Yerusalem selama 16 atau 17 bulan sebelum akhirnya turun ayat yang mewajibkan kaum Muslimin shalat menghadap ke Ka'bah di Masjidil Haram.
demikianlah berbagai cara para putra Ibrahim As memuji Ilahi setiap hari tanpa terputus hingga hari penghakiman, masing -masing kelompok memiliki jalan berbeda untuk mengagungkan Allah menurut tuntunan para Nabi dan orang-orang suci mereka. Ketika gema Adzan bersambut seruan Shema dengan diiringi lantunan Trisagion, mungkin Allah sedang tersenyum melihatnya. Wallahu a'lam bisshawab
Mohon maaf atas segala kekurangannya
Shalat merupakan ibadah harian yang rutin dilakukan oleh kaum muslimin setiap harinya. Sebanyak lima kali dalam sehari umat Islam wajib menghadapkan wajahnya ke arah Ka'bah, kiblat shalat yang ada di Makkah Al Mukarramah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dengan gerakan - gerakan penghormatan tertentu sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW serta pembacaan ayat suci Al Qur'an, doa -doa, dan pujian kepada Allah Ta'ala. Selain shalat fardhu lima waktu, dianjurkan pula melakukan shalat - shalat sunnah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Awalnya, shalat yang diwajibkan oleh Allah SWT pada masa pertama penyebaran Islam hanyalah Shalat malam saja yaitu sejak diturunkannya Qs Al Muzzammil: 1 - 19, dengan rakaat tak terbatas hingga muncul fajar, sehingga banyak para sahabat yang merasa berat untuk melaksanakannya. Maka turunlah ayat ke dua puluh surat itu yang menjadi ketetapan bahwa shalat malam itu menjadi sunnah dan dikerjakan semampunya saja. Perintah shalat lima waktu ditetapkan setelah peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW satu setengah tahun sebelum hijrah, menurut Ibnu Katsir. Praktik Ibadah semacam shalat ini juga ada dalam ajaran agama lain seperti Kristen dan Yahudi.
Seorang penganut Kristen Orthodox
Bagi umat Kristen yang dilahirkan dari tradisi gereja - gereja reformasi Barat, mungkin terasa asing jika mendengar istilah shalat dalam kekristenan. Namun bagi pemeluk Kristen Orthodox Syiria, Orthodox Koptik, Orthodox Konstantinopel, dan Katholik ibadah ini telah menjadi kewajiban harian bahkan jauh sebelum Islam. Jawad Ali, sejarawan Irak mengatakan bahwa kata shalat sendiri berasal dari bahasa Aram, Tselota yang merupakan nomen actionis yang artinya membungkukkan badan. Karena pengaruh bahasa Arab yang kuat di Timur Tengah, kata shalat lebih dominan dipakai oleh umat Kristen Arab untuk menyebut Tselota.
Dalam Kristen Orthodox, Ibadat shalat ini dibagi menjadi dua pola waktu yaitu tiga kali sehari seperti yang dilakukan Nabi Daniel ( Daniel 6: 11 - 12) dan Nabi Daud ( Mazmur 55: 18) . Waktu pelaksanaannya adalah pagi, siang, dan Sore. Lalu ada pola tujuh waktu ( As - Sab'u As shalawât) atau Liturgia Horarium dalam Katholik yang mengikuti pola Nabi Daud dalam Mazmur 119: 164. Waktu - waktu shalat yang disebut 'Iddana Tselota dalam bahasa Aram ini antara lain :
1. Shalat Saatul Awwal atau shalat Bâqir dalam Orthodox Koptik dan Laudes Matutinae dalam Katholik, dilaksanakan sekitar pukul 06:00.
2. Shalat Saatuts Tsalitsah atau Hora Tertia dalam Katholik, dilaksanakan sekitar pukul 09:00, setara dengan Shalat Sunnah Dhuha bagi kita Umat Islam.
3. Shalat Saat As Sadisah atau Hora Sixta yang dilaksanakan pada pukul 12 :00 bersamaan dengan shalat Dzuhur bagi Umat Islam.
4. Shalat Saatut Tasi'a atau Hora Nona, pelaksanaannya sekitar pukul 15 :00, dimana waktu itu umat Islam akan melaksanakan Shalat Asar.
5. Shalat Saatul Ghurûb atau Verpes, pelaksanaannya sekitar pukul 18:00 bersamaan dengan shalat Maghrib bagi Umat Islam, pada waktu ini pula umat Yahudi melakukan Tefilah Ma'ariv.
6. Shalat Saatun Naum atau Vigil dilaksanakan pada pukul 19 :00, setara dengan Shalat Isya.
7. Shalat Saatus Sattar disebut juga Shalat Hâjib Adz Dzulmat yang dalam bahasa Aram disebut Tselota Sahra atau Nocturna mungkin berpadanan dengan Shalat Tahajjud bagi kita Umat Islam karena pelaksanaannya tengah malam.
Pada Konsili Vatikan II, Ibadat Prime dihapuskan dan meringkas ibadah Terce, Sixta , dan None menjadi satu ibadah saja yang pelaksanaannya bisa dilakukan kapan saja di siang hari, lalu ibadah malam disebut ibadah bacaan yang waktu pelaksanaannya dapat dilakukan kapan pun sepanjang hari.
Keseluruhan waktu shalat ini memiliki makna penting dalam Kekristenan karena melambangkan kehidupan Yesus Kristus dari mulai kelahiran, penderitaan di kayu salib, kematian, dan kebangkitannya dari kematian. Pada awalnya, praktik Ibadah harian ini mengikuti tradisi ibadah harian Yahudi di awal abad pertama, mereka beribadah bersama - sama dengan umat Yahudi sampai kehancuran bait Allah tahun 70 M oleh tentara Romawi dibawah pimpinan Jenderal Titus dan benar - benar berpisah dari Yudaisme semenjak Muktamar Yahudi di Yavne tahun 80 M sebagai reaksi terhadap kekristenan dengan disisipkannya sebuah hujatan terhadap Kristen dalam Shemoneh Esrei ( Delapan belas Berkat) atas anjuran Rabi Gamaliel II.
Sebelum kehancuran bait Allah di Yerusalem, umat Kristen mula - mula melakukan sembahyang dengan berkiblat ke arah Baitul Maqdis sama seperti umat Yahudi. Namun setelah kehancurannya, umat Kristen berpindah kiblat menjadi ke arah timur berdasarkan Yohanes 4: 21 ; Kejadian 2 :8; Yehezkiel 43 :2; Yehezkiel 44 :1 hingga terlestari sampai saat ini oleh umat Orthodox.
Dalam agama Yahudi ibadah semacam shalat ini disebut Tefilah ( jamak: Tefillot) atau dalam bahasa Yiddish disebut Daven yang dikerjakan tiga kali dalam sehari yaitu Sacharit ( pagi), Minkha ( siang), dan Ma'ariv Aravim ( Maghrib atau sore). ibadah ini juga dilakukan dengan gerakan - gerakan khusus disertai pembacaan berkat - berkat yang berbeda di setiap waktunya sebagaimana yang tercantum dalam Sidur, buku Doa umat Yahudi. Di dalam Talmud, Rabi Joshua ben Levi mengatakan bahwa Penerapan pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadatan berupa persembahan kurban di Bait suci, sebagaimana perintah Allah dalam kitab Keluaran 29: 38 - 42; dan Bilangan 28: 1 - 8.
Saat Bani Israel dibuang ke Babilonia dan Bait suci dihancurkan oleh Nebukadnezar, Bani Israel tidak dapat lagi melakukan pengorbanan, maka digantilah praktik Ibadah tersebut dengan Tefilah di rumah masing - masing hingga terlaksana sampai hari ini dengan waktu yang sama seperti yang diilakukan Nabi Daniel ( Daniel 6: 11). Menurut Rabi Yose bar Rabi Hanina, ibadah harian ini juga mengikuti kebiasaan ibadah leluhur Bani Israel, Sacharit oleh Abraham, Minkha oleh Ishak, serta Ma'ariv oleh Yakub. Perbedaan pendapat para Rabi dalam masalah penerapan pertama pola waktu ibadah ini bisa kita lihat dalam Talmud Bavli traktat Berakhot 26b. Berikut ini adalah urutan pemberkatan di setiap waktu - waktu ( Z'mamim) Tefilah :
A. Sacharit:
1.Birkat hasachar
2.Pezukei D'Zimra
3.Keriat shema
4.Shemonei esrei
5.Tachanun
6.Halel
7.Keriat Hatorah
8.Ashrei
9.Musaf(saat hari raya atau bulan baru)
10.Shir shel Yom
11.Aleinu
B. Minkha :
1.Aleinu
2.Uva L'tzion
3.Keriat Torah
4.Shemonei esrei
5.Tachanun
6.Aleinu
C. Maariv:
1.Keriat Hashem
2.Shemonei esrei
3.Aleinu
Tefilah Ma'ariv Aravim dilaksanakan ketika matahari hampir terbenam
Umat Yahudi di masa sekarang melakukan Tefilah di Sinagoga - sinagoga, bagi sinagoga yang berada di luar Kota Yerusalem diharuskan menghadap kiblat yang disebut Mizrach ke arah Yerusalem. Dulu Rasulullah SAW bersama para sahabatnya ketika di Madinah juga Shalat menghadap ke Yerusalem selama 16 atau 17 bulan sebelum akhirnya turun ayat yang mewajibkan kaum Muslimin shalat menghadap ke Ka'bah di Masjidil Haram.
demikianlah berbagai cara para putra Ibrahim As memuji Ilahi setiap hari tanpa terputus hingga hari penghakiman, masing -masing kelompok memiliki jalan berbeda untuk mengagungkan Allah menurut tuntunan para Nabi dan orang-orang suci mereka. Ketika gema Adzan bersambut seruan Shema dengan diiringi lantunan Trisagion, mungkin Allah sedang tersenyum melihatnya. Wallahu a'lam bisshawab
Mohon maaf atas segala kekurangannya



Comments
Post a Comment